Bekasi TV NEWS
SYARIAH

Pandemi Dalam Alquran: Catatan Riset Dokter Hindia Belanda

Kondisi pendemi pada zaman kolonial Bekanda. (Foto: google)

Oleh
: DR Imas Emalia, Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Jakarta*

Bagi para peneliti ilmu kesehatan dan bidang kedokteran, nama dr. Ahmad Ramali tidak asing lagi. Dia seorang dokter pemerintah asal Sumatra yang lulus School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) tahun 1928 yang kemudian ditugaskan di beberapa tempat di Sumatra dan Jawa. Dokter Ahmad Ramali seringkali mengulas keterkaitan kesehatan dengan Islam dalam karya-karyanya,  termasuk disertasinya.

Pada 1933 ia menulis beberapa artikel tentang Bijdrage tot Medisch-Hygienische Propaganda in eenige Islamitische streek pada majalah Medische Propaganda van den Dienst der Volkgezondheid (MDVG) jilid 1. Banyak artikelnya dengan judul yang sama namun pembahasan yang berbeda, seperti ‘pentingnya kebersihan dan kesehatan’ sebagai pondasi hukum Islam.

Pada masa itu, ia menulis artikel tersebut dengan tujuan sebagai sumbangan pemikirannya bagi program propaganda kebersihan yang dilakukan oleh pemerintah khususnya bagi daerah-daerah yang penduduknya mayoritas Muslim. Pada beberapa tugasnya, ia menjelaskan bahwa kebersihan itu penting dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Area kehidupan yang harus dibersihkan adalah mulai gigi hingga kemaluan.

Selain kaitannya dengan kebersihan, dalam melaksanakan tugasnya, dr. Ahmad Ramli sering mengulas tentang epidemi yang sudah diulas dalam Al-Quran. Tentu saja ulasannya itu disampaikan kepada umat Islam di tanah Hindia Belanda yang pada awal abad ke-20 sering dilanda berbagai wabah penyakit.

Bagi dr. Ahmad Ramali, di satu sisi, tugasnya sebagai dokter pemerintah berkewajiban mempropagandakan hidup sehat dan bersih kepada masyarakat pribumi. Di sisi lain, ia sangat menyadari bahwa seorang Muslim perlu menyampaikan dasar-dasar hidup sehat dan bersih itu sangat terkait dengan hukum Islam.

Salah Satu Karya dr. Ahmad Ramli

Pada masa awal tugasnya, sekitar tahun 1929, wilayah Hindia Belanda sedang ditimpa berbagai wabah penyakit. Maka beberapa tulisan dr. Ahmad Ramali dapat dipahami sebagai cara untuk menyampaikan pemikirannya sebagai seorang Muslim yang tidak melepaskan dari pengetahuannya tentang ajaran Islam dan sebagai seorang dokter yang melakukan penelitian tentang seputar kesehatan, wabah, dan korelasinya dengan perilaku seorang Muslim ketika mensikapi bencana wabah. Seperti perlunya isolasi, hidup bersih, bersikap tenang, dan patuh aturan, serta tawakal.

Musnahnya Bani Tsamud: Ulasan dr. Ahmad Ramali tentang Cara Riset atas Epidemi

Disertasi dr. Ahmad Ramali mengulas perilaku Bani Israil yang ingkar terhadap kenabian Nabi Salih as yang disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, seperti pada QS:7/73-79, QS:11/61-68, QS: 14/9, QS: 15/80-84, QS: 25/38, dst.

Ayat-ayat tentang kisah kaum Tsamud menjadi catatan bagi dr. Ahmad Ramali.

Adanya epidemi yang akut dan amat hebat yang datang tiba-tiba di daerah antara Syam dan Hijaz yang kemudian memusnahkan Bani Tsamud.

Menurutnya, kisah itu memembuat para peneliti mengembangkan penelitan tentang hubungan penyakit menular dengan unta betina.

Ketika kaum Tsamud yang membunuh unta betina dengan cara yang tragis, membuat Nabi Salih as berucap “engkau telah merusak yang telah disucikan Allah. Ketahuilah bahwa siksaNya akan diturunkan atas kamu. Hari Kamis mukamu akan jadi kuning, hari Jumat merah, dan hari Sabtu hitam”.