Bekasi TV NEWS
SYARIAH

Masa Pendemik, Krisis Pangan Hantui Indonesia

ilustrasi
Krisis Pangan Hantui Indonesia 2020 (foto: Antara)

Indonesia menjadi salah satu negara yang bisa terkena dampak krisis pangan dunia, sebagai akibat virus Corona. Organisasi pangan dunia FAO memperingatkan Indonesia soal krisis pangan dunia ini.

Indeks harga pangan FAO sudah turun 1 persen mulai Februari 2020. Sepertinya, akan terus mengalami penurunan. Sebab kekuatan besar pangan yang masih bertumpu pada USA dan Tiongkok terkendala wabah virus COVID-19 yang berat.

Organisasi Pangan Dunia (Food Agriculture Organization/FAO) memprediksikan virus Corona (COVID-19) bisa berdampak pada krisis pangan dunia. Salah satunya Indonesia, prediksi tersebut sedikit demi sedikit sudah mulai terlihat saat ini.

Melansir dari Mongabay Indonesia, Senin [13/04/2020]. Menurut peneliti INAgri [Institut Agroekologi Indonesia] Azwar Hadi Nasution mengatakan, setiap negara akan memikirkan dirinya sendiri.

“Kalau mengikuti pernyataan beberapa petinggi negara di Eropa, Amerika dan Asia, beberapa bulan ke depan setiap negara masih memikirkan dirinya sendiri. Jadi, kalau stok pangan di dalam negeri kurang, siap-siap saja untuk gigit jari,” kata Azwar Hadi Nasution.

Demikian juga hal sama dikatakan Rusli Abdullah seperti dilansir dari detikcom, Kamis (7/5/2020). Pengamat Pangan dari INDEF (Institute for Development of Economics and Finance).

Rusli menyebut beberapa negara sumber impor beras seperti Vietnam, Taiwan, dan India juga sudah membatasi ekspornya ke Indonesia. Hal itu dilakukan mereka untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

“Kalau keadaan normal bulan-bulan ini sudah mulai impor untuk stok di akhir tahun nanti. Masalahnya mereka nggak mau buka ekspornya karena mereka mementingkan kebutuhan domestik mereka dulu,” ungkapnya.

Kebutuhan Domestik

Rusli Abdullah mengatakan ancaman krisis pangan terjadi karena kegiatan logistik hingga proses impor yang terganggu akibat pandemi. Hingga menyebabkan kelangkaan barang seperti gula yang sedang terjadi saat ini.

“Jadi ada beberapa daerah yang PSBB misalnya, terus logistiknya terganggu atau bahkan ekspor impor. Yang paling nyata ancamannya di kita saat ini masalah gula, itu kita masih impor dari India salah satunya tapi dia lockdown, nggak bisa toh. Ini yang menjadikan akhir-akhir ini gula langka,” (7/5/2020).

Lalu soal beras, Rusli bilang, akhir tahun Indonesia diperkirakan surplus hanya 2,8 juta ton untuk makan 1 bulan. Sedangkan pasokan beras akhir tahun dikatakan aman jika surplus 8 juta ton untuk makan selama 3 bulan ke depan sambil menunggu masa panen raya di Maret 2021.