Bekasi TV NEWS
Bekasi 24

Rekor Baru, Utang Pemerintah AS Rp 375 Kuadtriliun.

ilsutasi utang
Ilustrasi (istimewa)

Utang pemerintah AS Rp 375 Kuadtriiun atau setara US$ 25 triliun, Trump secara agresif melakukan pinjaman hingga utangnya memecahkan rekor.

Bahkan Departemen Keuangan AS mengatakan, pada akhir kuartal ini akan meminjam lagi US$ 3 triliun atau setara Rp 45 kuadtriliun.  Angka itu hampir enam kali lipat dari rekor utang AS sebelumnya pada 2008.

Melansir dari CNN, Kamis (7/5/2020), rasio utang terhadap PDB AS mencapai hampir 80% bahkan sebelum pandemi virus Corona melanda. Rasio itu dua kali lipat lebih tinggi dari rata-rata historis.

Kantor Anggaran Kongres memperkirakan defisit anggaran federal akan mencapai US$3,7 triliun tahun ini, naik dari US$1 triliun pada tahun 2019.

Pada saat ekonomi AS sedang kuat, kondisi ekonomi AS justru mengalami defisit. Kebijakan Trump justru menumpuk lebih banyak utang untuk membiayai insentif pemotongan pajak besar-besaran dan lonjakan belanja negara.

Krisis Keuangan

Para ekonom sepakat bahwa Amerika Serikat harus terus menumpuk utang untuk mencegah kejatuhan ekonomi yang lebih dalam lagi. Sebab jika ekonomi benar-benar terpuruk maka AS tidak bisa membayar utang setelah masa krisis pandemi ini berakhir.

Bahkan pengawas defisit mendesak Paman Sam untuk terus meminjam, mereka menilai saat ini bukan keputusan yang tepat untuk menghentikan utang.

Saat ini fokusnya adalah menjaga roda perekonomian AS tetap bertahan. Pada bulan Maret, Kongres meloloskan paket stimulus US$ 2,3 triliun dan menjadi yang terbesar dalam sejarah AS.

Kemungkinan juga masih akan ada stimulus yang diberikan pemerintah AS, sekitar US 2 triliun lagi akhir tahun ini. Stimulus itu untuk membantu pemerintah negara bagian dan lokal yang terpukul oleh krisis.

Semua itu akan menambah tinggi tumpukan utang AS yang sudah menggunung. Tetapi pihak AS percaya tidak ada pilihan lain untuk mencegah krisis lebih lanjut.

Kendati demikian akan ada konsekuensi jangka panjang dari utang yang menggunung itu. Ujungnya akan muncul tingkat suku bunga yang lebih tinggi, inflasi yang lebih besar dan kemungkinan pajak yang lebih tinggi.