Bekasi TV NEWS
Bekasi 24

AS Tuduh China Retas Penelitian Vaksin Covid-19

retas covid-19
Amerika Serikat menuduh China retas penelitian Covid-19

Selama berbulan-bulan, pejabat Amerika Serikat telah memperingatkan lonjakan serangan siber selama pandemi virus covid-19. Meski para pejabat AS menahan diri untuk tidak menunjuk satu negara.

Sekarang, persaingan sengit global untuk memperoleh vaksin virus corona semakin meningkat dan para peretas menyasar penelitian ilmiah terkait. Para pejabat AS pun bersiap untuk menuding musuh siber lamanya: China.

FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) dijadwalkan beberapa hari mendatang untuk secara terbuka menuduh China. Tuduhan itu terkait pencurian penelitian di AS yang terkait dengan vaksin, perawatan, dan uji covid-19.

Dalam sebuah wawancara, CEO Redpoint Cybersecurity,  Tab Bradshaw, Senin (11/5, dan mengkonfirmasi peringatan pengungkapan tuduhan itu. Anggota kelompok kerja berbagi informasi canggih Departemen Keamanan Dalam Negeri, akan mengungkapkannya.

“Saya kira itulah yang akan terjadi,” kata Bradshaw kepada VOA.

“Ini adalah langkah politik untuk menyebut pemerintah Komunis China dan menyatakan kepada dunia bahwa mereka secara aktif mencoba mencuri teknologi AS,” kata Bradshaw.

FBI tidak berkomentar. DHS tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar. AS telah lama mencap China bersama Rusia, Korea Utara, dan Iran sebagai sumber utama serangan siber dan menuduh Beijing mencuri kekayaan intelektual AS agar unggul bersaing dengan A.S.

“Beritatahu saya, apa lagi yang baru dengan China?“ kata Presiden Donald Trump saat konferensi pers Gedung Putih ketika ditanya tentang laporan dugaan pencurian China atas penelitian vaksin.

Penyelidikan Covid-19 AS dan Inggris

Namun, menuduh China secara terbuka mencuri penelitian eksklusif yang terkait dengan vaksin Covid-19 kemungkinan akan memperburuk ketegangan antara Beijing dan Washington.

Apalagi pemerintahan Trump terus menyalahkan China sebagai asal pandemi selama ini.  Serta menuduh China atas kegagalannya bertindak cukup cepat untuk memperingatkan negara lain dan mencegah penyebaran virus corona.

Peringatan FBI-DHS disampaikan menyusul peringatan bersama yang dikeluarkan minggu lalu oleh pejabat siber AS dan Inggris.

Saat ini AS dan Inggris sedang menyelidiki sejumlah insiden. Kedua badan itu yakni, Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) AS dan National Cyber Security Centre Inggris.

Mereka sedang menyelidiki sejumlah insiden yang melibatkan perusahaan farmasi, organisasi penelitian medis, dan sejumlah universitas. [my/fw]

Sumber : Voaindonesia