Bekasi TV NEWS
Bekasi 24

Panen Raya Harga Cabai Anjlok, Begini Siasat Petani Di Kabupaten Magetan

Cabai
Petani mengeringkan cabai untuk menyiasati harga anjlok ( Foto: tabloidsinartani.com / Trisni)

Cabai menjadi salah satu komoditas pertanian yang terimbas wabah Covid-19.  Saat panen raya kali ini, sejumlah petani cabai mengeluhkan anjloknya harga.

Melansir berita dari Tabloitsinartanicom (17/5), Kadar, petani sekaligus pedagang di Desa Pingkuk mengatakan, dengan harga tersebut, kerugian petani diperkirakan sebanyak Rp 55,74 juta/ha.

Padahal menurutnya, biasanya menjelang lebaran harga bisa mencapai Rp 20.000-25.000/kg.

“Tapi menjelang Lebaran tahun 2020 harapan petani cabai pupus akibat pandemi Covid-19,” katanya.

Hal sama juga dialami petani cabai lainnya di Desa Pingkuk, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Meski produksi rata-rata mencapai 7,1 ton/ha, harga cabai merah hanya dihargai Rp 3.000 – Rp 4.000/ kg.

Harga jual ini tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan oleh para petani,

Untuk menyiasati hasil panen kali ini yang anjlok, Kadar menyiasatinya dengan cara mengeringkan cahai hasil panen tersebut.

Kadar mengatakan, tujuan pengeringan ini untuk mengurangi kadar air cabai hingga batas tertentu, Dengan cara ini mikroba tidak dapat tumbuh. Hal ini  dapat meningkatkan nilai tambah, terutama saat panen raya dan harga anjlok.

“Pengeringan cabai juga memperpanjang daya simpan, serta mempermudah dalam penyimpanan, pengemasan dan transportasi,” ujarnya.

Sementara itu Trisni Setiyaningrum, penyuluh pertanian yang mendampingi petani di Desa Pingkuk Kecamatan Bendo mengatakan, olahan cabai akan memberikan nilai tambah saat harga jatuh.

“Cabai yang telah dipanen dikeringkan dengan dijemur kurang lebih 1-2 hari,” ujar Trisni.

Cabai yang telah kering, kemudian dimasukkan ke karung dan disimpan, lalu untuk dijual saat harga cabai mulai membaik. Dengan pengolahan cabai, petani di Desa Pingkuk Kecamatan Bendo tidak akan merugi terlalu besar.

Harga Cabai Anjlok

Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto mengatakan, Kementerian Pertanian sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan jatuhnya harga cabai. Di antaranya, sistem tunda jual yang sudah disosialisasikan ke Petugas Dinas Pertanian dan Petani Champion cabai di seluruh wilayah sentra sejak awal April.

“Teknisnya kami memfasilitasi sewa cool storage di beberapa wilayah yang dapat digunakan petani untuk menyimpan hasil panen petani. Kami juga fasilitasi biaya distribusi dari daerah produksi surplus ke daerah minus,” ungkap dia, dalam keterangannya, Selasa (12/5/2020).

Dia juga berpesan agar petani lebih cerdas dan tidak kaku dalam berbudidaya. Misalnya dengan pola budidaya tumpangsari.

“Jadi tidak hanya menanam cabai saja, tapi tumpangsari dengan komoditas lainnya sehingga jika harga cabai jatuh, masih ada pemasukan dari komoditas lain yang masih memberikan keuntungan,” jelas Anton.

Untuk diketahui, stok cabai saat ini sudah tersedia. Sebagian besar wilayah sentra mulai panen raya sejak April dan diprediksi panen berlangsung hingga Juli mendatang.

Namun melimpahnya hasil panen ternyata tidak sebanding dengan permintaan pasar akibat kebijakan PSBB dibeberapa daerah tujuan pasar. Akibatnya, terjadi kelebihan pasokan yang berdampak pada jatuhnya harga sehingga petani kekurangan modal untuk menanam kembali.