Bekasi TV NEWS
Bekasi 24

Rizal Ramli Blak-blakan Bongkar Carut Marut Ekonomi Indonesia

Rizal Ramli
Rizal Ramli Blak-blakkan bongkar carut-marut kebijakan Indonesia. (foto: repro, bekasitv.com)

Rizal Ramli, blak-blakkan membongkar carut-marut kebijakan ekonomi pemerintah yang salah strategi. Kritik tersebut dinyatakan blak-blakan secara terbuka dalam tayangan di channel ILC salah satu stasiun televisi swasta, Selasa 21 April 2020.

“Kita harus pahami bahwa akibat krisis Corona ini terjadi Geo Political Shift. Tadinya itu RRC pabrik dunia, semua perusahaan multi nasional punya pabrik di Cina.  Mereka kemudian belajar setelah ini (krisis corona), ternyata bahaya, dan berpikir tidak boleh lagi sepenuhnya dan harus keluar dari Cina secepat mungkin. Bahkan Perdana Menteri Jepang memberikan insentif kepada perusahaan Jepang untuk keluar secepat mungkin dari Cina,” demikian kata Rizal Ramli blak-blakkan.

“Mereka pergi ke Vietnam, India dan Mexico,” sebutnya.

Rizal mengatakan, padahal pak Jokowi dalam enam tahun terakhir selalu bilang (kepada Jepang, red) come to Indonesia, invest to Indonesia. Nggak ada hasilnya, mohon maaf pak Jokowi,” ujarnya  Rizal.

“Kenapa mereka invest pada tiga negara itu, kenapa kita hanya ingin mencapai pertumbuhan ekonomi 5%, India 7%, lain-lain 7%, mereka bisa. Pompa dulu ekonominya ke 7%, jadi dibalik logikanya,” tukasnya lagi.

“Para analisis ekonomi menyebut Vietnam, India dan Mexico akan menjadi super power ekonomi dalam 10 tahun mendatang,” kata Rizal.

“Menurut saya, jika kita canggih, kita cerdas, Indonesia bisa menjadi 4 besar dalam kurun waktu 10 tahun mendatang,” jelas Rizal.

“Ini kesempatan bagi kita untuk menjadi economic super power,” sebut ekonomi senior ini.

Para nara sumber lainnya yang hadir di studio tampak diam menyimak uraian Rizal, seakan meng-aminkan apa yang dipaparkan oleh ekonom senior ini.

Krisis Sudah Terjadi Sebelum Corona

Sebelum mengupas soal geo-politik, Rizal Ramli pada intinya ingin mengutarakan bahwa krisis corona bukanlah sebagai penyebab krisis ekonomi.

“Sebelum ada corona ekonomi (kita) sudah masalah. Tahun 2017, 2018, 2019,” katanya.

“Seolah-olah ada kesan semua baik-baik saja, tapi utang luar negerinya naiknya besar sekali, peningkatan outputnya sangat rendah, stagan di pertumbuhan 5% sejak tahun 2017,” papar Rizal.

“Saat pertama kali kasus corona ditemukan, tapi kita dari Januari sampai Maret sibuk proses self denial (penyangkalan diri) sehingga kita kehilangan waktu 2,5 bulan,” katanya.

Rizal mengungkapkan, setelah mulai sadar adanya krisis Corona, tiba-tiba ada pejabat dalam waktu semalam berubah menjadi super pesimis dengan katakan bahwa ekonomi Indonesia “gara-gara corona” akan anjlok minus 2%. Ekonomi Indoesia  “gara-gara corona”, bukan karena kebijakan sebelumnya yang super konservatif, ngawur dan tidak ada value added (nilai tambahnya).

“Sebetulnya ini hanya alasan yang dicari-cari untuk menjustifikasi bahwa budget defisit dari minus 3% GDP menjadi 5%. Nah mumpung ada corona budget defisit bisa ditingkatkan dari 3% menjadi 5%, supaya bisa ngutang lebih besar. Otaknya ini kan hanya ngutang, ilmunya ini gak lebih dan kurang,” pungkas Rizal.[]

Editor: Albayan