Bekasi TV NEWS
Bekasi 24

Soeharto Menolak Tawaran Perlindungan Dari Negara Lain

Soeharto Menolak
Presiden RI kedua Soeharto menolak tawaran dari negara lain untuk tinggalkan Indonesia

Soeharto, Presiden RI, pernah ditawari sejumlah kepala negara sahabat untuk berlindung di negara mereka. Namun Soeharto menolak tawaran itu.

“Saya tidak akan pergi ke mana-mana. Ini rumah saya. Saya akan tetap disini. Sampaiken terima kasih saya pada sahabat-sahabat saya dari negara-begara lain. Tapi maaf, saya tidak akan meninggalken Indonesia,” Siti Harijanti Rukmana alias Mbak Tutut dalam tulisan di blog pribadi, Minggu (7/6).

“Saya lahir di Indonesia. Seandainya saya harus mati, saya akan mati di Indonesia, negeri dimana saya dilahirken,” sambung Soeharto.

Demikia kata Presiden RI ke dua, Soeharto menolak tawaran dari beberapa negara.

Tutut Soeharto menuliskan kisah itu untuk mengenang hari kelahiran Soeharto, 8 Juni. Artikelnya itu diberi judul “Bersyukurlah Kita Masih Diuji Allah.”

Pengunduran diri Soeharto diikuti hujatan, cacian, makian dan beragam tuduhan yang dialamatkan kepaanya.

“Pada saat itu keadaan sangat mencekam. Begitu banyak orang turun ke jalan (ukuran kala itu) untuk melakukan demo. Situasi tidak terkontrol lagi. Penjarahan di mana-mana. Berhari-hari hal ini berlangsung,” tulis Tutut Soeharto.

“Karena begitu rusuhnya situasi pada saat itu, untuk keselamatan bapak, bapak diminta oleh sejumlah pihak meninggalkan kediaman Cendana, mengungsi. Bahkan ada beberapa presiden menawarkan bapak untuk datang ke negaranya dan beliau-beliau siap melindungi Bapak,” sambung mba Tutut.

Tidak Bersalah

Atas tawaran-tawaran itu, Soeharto menjawab seperti yang telah disebutkan tadi. Soeharto juga mengatakan dirinya tidak takut karena merasa tidak bersalah dan merasa telah melakukan tugas dengan sebaik-baiknya.

Di dalam artikel itu Tutut juga menceritakan, setelah Soeharto tidak lagi berkuasa, Presiden BJ Habibie yang menggantikannya memutuskan untuk mencabut semua pengawalan resmi pada Soeharto dan keluarga.

Rumah Soeharto di Jalan Cendana, Menteng, akhirnya hanya dijaga Satpam dan beberapa anggota ABRI yang memutuskan untuk pensiun dini.

Tutut Soeharto juga menyinggung manuver sejumlah menteri Soeharto yang pada saat-saat sulit di tahun 1998 itu memutuskan untuk berhenti.

Menurut Tutut yang lebih menyakitkan, sekelompok pembantu bapak pada saat bapak menjadi presiden, melakukan tindakan yang sangat tidak etis. Mereka akan mengundurkan diri dari jabatan Menteri kalau bapak tetap jadi Presiden

“Mungkin mereka berfikir, mereka akan bisa menguasai Indonesia, setelah bapak tidak jadi Presiden,” tulis Tutut Soeharto.

Tentu perasaan-perasaan seperti itu yang muncul. Kalau soal rasa takut, tidak ada sama sekali. Karena itu tadi, kami tidak bersalah.

Editor: Albayan